Ruangvirtual.com — PT Terminal Teluk Lamong (TTL) mencatat peningkatan kinerja setelah lima tahun merger PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo. Arus peti kemas yang dikelola perusahaan mencapai 2.187.964 TEUs pada 2025, naik signifikan dibandingkan 780.160 TEUs pada 2021.
Lonjakan tersebut menjadi salah satu gambaran perkembangan TTL setelah integrasi Pelindo. Selain peningkatan volume, perusahaan juga melakukan pembenahan operasional, memperluas digitalisasi, serta mengembangkan sejumlah inovasi untuk memangkas waktu layanan dan meningkatkan efisiensi terminal.
Baca juga: TTL Perkuat Layanan Kapal di Tanjung Perak lewat EAZI dan Integrasi Digital
Pertumbuhan arus peti kemas tercatat semakin tinggi dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, throughput TTL tumbuh 55,9 persen, kemudian kembali meningkat 64,6 persen pada 2025.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, mengatakan peningkatan volume tidak terlepas dari proses integrasi dan transformasi yang dilakukan perusahaan.
“Lima tahun pascamerger menjadi perjalanan penting bagi Terminal Teluk Lamong. Kami tidak hanya tumbuh dari sisi volume, tetapi juga terus membangun fondasi operasional yang semakin terintegrasi, produktif, dan berorientasi kepada pelanggan,” kata David dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2026).
Tiga Terminal dalam Satu Pengelolaan
Pertumbuhan TTL berlangsung bersamaan dengan bertambahnya terminal yang berada dalam pengelolaannya.
Pada 2024, TTL menerima serah operasi TPK Nilam, disusul TPK Berlian pada 2025. Saat ini, perusahaan mengelola tiga terminal peti kemas, yaitu TPK Teluk Lamong, TPK Nilam, dan TPK Berlian.
Integrasi ketiga terminal tersebut memberikan ruang bagi TTL untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset, peralatan, kapasitas, dan sumber daya manusia.
Standardisasi proses operasional juga terus dilakukan untuk memastikan layanan di terminal berjalan semakin terintegrasi.
Waktu Tunggu Kapal Dipangkas
Efisiensi operasional menjadi salah satu fokus transformasi TTL.
Pada pelayanan kapal di dermaga domestik, perusahaan melakukan evaluasi terhadap pola operasi setelah arus kuat sebelumnya menjadi salah satu faktor yang memengaruhi waktu pelayanan.
Bersama pelayanan pemanduan, TTL kemudian melakukan penyempurnaan pola pelayanan kapal. Hasilnya, kapal dapat dilayani lebih fleksibel tanpa harus menunggu kondisi arus tertentu.
Rata-rata waktu tunggu kapal berhasil ditekan dari 6,67 jam menjadi 1,83 jam.
TTL selanjutnya menerapkan Berthing Priority dan Berthing Window untuk meningkatkan kepastian jadwal kapal sekaligus mengurangi waktu tunggu.
Konsep tersebut dikembangkan untuk mendukung reliability jadwal pelayaran dan memberikan kepastian pelayanan bagi pengguna jasa.
Kedatangan Truk Mulai Diatur Digital
Transformasi tidak hanya menyasar pelayanan kapal. Aktivitas kendaraan di terminal juga menjadi perhatian TTL.
Pada 2025, perusahaan menerapkan Terminal Booking System (TBS) untuk mengatur dan memeratakan kedatangan truk.
Baca juga: Kasus Hipertensi Tembus 248 Ribu, Pemkot Surabaya Keluarkan Aturan Ketat Konsumsi GGL
Sistem tersebut ditujukan untuk meningkatkan handling capacity, mengendalikan Truck Round Time (TRT), serta meningkatkan efisiensi proses haulage.
TTL kemudian mengembangkan sistem Integrated Planning & Control untuk memperkuat perencanaan dan pengendalian aktivitas terminal secara terintegrasi.
Pemanfaatan sistem berbasis data tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan meningkatkan akurasi perencanaan sekaligus mempercepat pengambilan keputusan operasional.
EAZI Jadi Inovasi Pelayanan 2026
Pada 2026, TTL kembali melakukan inovasi melalui implementasi Express Anchorage Zone Service (EAZI).
Program tersebut memanfaatkan area labuh untuk mempercepat proses pelayanan kapal sebelum memasuki tahapan operasional berikutnya.
Melalui EAZI, waktu pelayanan di area labuh dapat dipersingkat sehingga proses pergantian antarkapal menjadi lebih cepat.
Langkah tersebut sekaligus mendukung percepatan proses sandar dan aktivitas kapal di terminal.
“Transformasi bagi kami bukan satu proyek besar yang berdiri sendiri, tetapi rangkaian continuous improvement,” ujar David.
Ia menjelaskan, perbaikan dilakukan secara bertahap pada berbagai aspek, mulai dari pelayanan kapal, kepastian jadwal sandar, pengaturan arus truk, hingga perencanaan dan pengendalian aktivitas terminal.
Baca juga: Sarasehan IKA UINSA Malah Munculkan Calon Rektor dari Kalangan Guru Besar Perempuan
Bidik Terminal Smart dan Sustainable
Setelah lima tahun merger Pelindo, TTL selanjutnya mengarahkan pengembangan bisnis dan operasional menuju terminal yang lebih smart, green, and sustainable.
Integrasi tiga terminal menjadi salah satu modal perusahaan untuk mengoptimalkan kapasitas dan aset secara lebih efektif.
Di saat yang sama, teknologi digital terus dikembangkan untuk memperkuat konektivitas antara terminal dengan perusahaan pelayaran, pengguna jasa, transporter, dan mitra logistik lainnya.
TTL juga memasukkan efisiensi energi, pengurangan dampak lingkungan, keselamatan kerja, dan keberlanjutan operasional dalam agenda pengembangan perusahaan.
“Integrasi tiga terminal memberikan ruang yang semakin besar bagi kami untuk mengoptimalkan kapasitas, aset, dan sumber daya secara lebih efektif,” kata David.
Menurut dia, transformasi TTL ke depan akan tetap diarahkan untuk merespons kebutuhan pelanggan sekaligus mengikuti perkembangan industri logistik.
Memasuki fase berikutnya, TTL menempatkan penguatan integrasi tiga terminal, peningkatan produktivitas, digitalisasi, dan inovasi operasional sebagai bagian dari strategi pengembangan perusahaan.
Dengan semangat “5 Tahun Bersatu, Bersama Kita Maju”, TTL berharap transformasi yang dilakukan dapat semakin memperkuat konektivitas logistik, meningkatkan efisiensi rantai pasok, dan mendukung daya saing sektor maritim Indonesia.
Editor : Redaksi